Hari-hari Omong Harmoko (1994-sekarang)
Pada tahun 1994, departemen penerangan membredel majalah tempo, majalah editor, dan tabloid detik. Hal ini juga bersamaan dengan dipenjaranya Eko Maryadi dan tiga temannya yang kala itu berprofesi sebagai wartawan. mereka di penjarakan selama 3 tahun dikarenakan menerbitkan majalah editor, dan tabloid detik. Eko Maryadi juga merupakan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didirikan pada Agustus 1994. Eko dan tiga temannya tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak wartawan yang menolak diadakannya pembredelan yang menutup pledoisnya dengan kalimat perkedel buah kedondong, jangan main bredel dong.
Bondan Winarno yang saat ini berprofesi sebagai pembawa acara program kuliner di televisi pada tahun 1997 juga merupakan salah satu wartawan yang membongkar sebuah skandal penipuan sebuah tambang emas asal kanada Bri-X di Busang, Kalimantan Timur. pemerintah membredel majalah tempo yang disebabkan karena majalah tempo memberitakan kasus import kapal perang bekas dari Jerman Timur yang menyebabkan Bondan menjadi salah satu korban penjara. Mulai tahun 1984 hingga 1994 Bondan menukis kolom di majalah yang diberi nama Kolom Kiat yang pada waktu itu sangat disukai sekali oleh masyarakat. Aristidas Kutopo juga salah satu korban yang kehilangan korannya. Pada tahun 1996 departemen penerangan menutup Sinar Harapan yang gerbit sejak 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Pada waktu itu beredar isu adanya monopoli dan juga banyak disebutkan bahwa kru dari KKN itu dari Cendana yang diberikan hak monopoli untuk melakukan ekspor dan impor. Kemudian pada saat itu pak Harto selaku presiden memutuskan supaya mau menghapus secara konsekuen, tetapi menjadi bertolak belakang dengan kru Sinar Harapan dikarenakan adanya persyaratan mengenai penghapusan secara konsekuen tersebut yang ada batasannya yaitu penghapusan semua monopoli kecuali yang melibatkan keluarga dan kerabat dekatnya, sedangkan menurut kru Sinar Harapan, konsekuen itu adalah penghapusan segala monopoli tanpa terkecuali dan pandang bulu. Seperti halnya majalah Tempo koran sore Sinar Harapan bisa terbit lagi setelah razim orde baru tumbang.
Pada 1992 diusia 25 tahun Ahmad Khusaini di tugaskan kantor berita Antara untuk meliput mentri penerangan Harmoko yang juga baru diangkat sebagai ketua umum Golkar. Selama 2,5 tahun setiap sabtu dan minggu khusaini mengikuti Harmoko keliling indonesia untuk melakukan "Temu Kader". Khusaini menjelaskan bahwa pada masa itu beliau bersama Harmoko merupakan sebuah perjalanan yang sangat luar biasa dengan menaiki berbagai macam kendaraan settiap harinya mulai dari rakit, pesawat khusus, helikopter, kapal angkatan laut, bahkan sampai kapal selampun dinaikinya bersana Harmoko selama 2 tahun lebih itu. Bahkan pernah pada suatu ketika pesawat hampir beberapa kali jatuh, pada saat pesawat mau jatuh dan mengeluarkan plastik oksigennya Harmoko tidak lantas panik namun malah berfoto dengan pose dua jari karena pada masa itu Harmoko merupakan bintang media yang setiap harinya muncul di Tv serta koran yang memberitakan mengenai aktivitasnya sebagai menteri oenerangan maupun ketua umun golkar.
Harmoko menjadi menteri keuangan selama 3 priode berturut-turut mulai antara tahun 1983 -1997 yang ditandatanganinyalah surat ijin penerbitan pers dan CIU dikeluarkan atau dibatalkan. Hal inilah yang menjadi hidup dan matinya media masa pada kala itu. tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat ijinnya pada periode kepemimpinan Harmoko di departemen penerangan. setelah pemilihan umum 1992 Suharto menunjuk Harmoko yang kala itu merupakan pegawai sipil pertama menjadi ketua umum Golkar. Aksi panggung Harmoko menyumbangkan aksi suara yang awalnya hanya 60% menjadi 75% ditahun 1997. Pada kegiatan saphari ramadhan dimanfaatkan dengan baik oleh Harmoko sebagai aksi nyata yanh dipergunakan untuk komunikasi sambung rasa untuk mendengarkan suasana hati rakyat serta keinginannya yang kemudian dibawa dalam rapat kabinet sehingga persoalan-persoalannya dapat didengar langsung dan dibawa ke rapat kabinet yang pada kala itu suatu kebijakan - kebijakan yang di buat sesuai dengan kenginan masyarakat yang dia dengar tersebut. Meski loyalitasnya sebagai penjaga pers razim orde baru tak diragukan, namun pada tahun 1997 presiden Soeharto mencabut 3 periode kekuasaan Harmoko di departemen penerangan yang kemudian menduduki jabatan sebagai mentri negara urusan khusus yang pada kala itu merupakan kementrian baru dan belum jelas tugas serta fungsinya. Namun kemudian diakhir tahun 1997 Soeharto menunjuk Harmoko untuk menjadi kepala Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kedudukannya setara dengan presiden sebagai lembaga negara setidaknya secara teori. Pada kala itu tidak ada yang menyangka pada penutupan paripurna ke-5 maret 1998 manjadi lebih buruk 2 bulan berikutnya di tangan Harmoko, dan pada saat itulah Harmoko membuat keputusan dan membuat jalannya sendiri. Pada kala itu Soeharto tidak punya pilihan lagi, rakyat mengamuk, jalanan rusuh, 14 mentri mundur dan diikutiboleh Harmoko yang bersamaan runtuhnya razim orde baru. Mulai saat itulah Harmoko yang psrnah bersekolah sebagai dalang diSolo tersebut menghilang dari pandangan publik.
Sempat ditemui pada saat acara ulang tahun perusahaan koran miliknya yang dibangun sejak tahun 1970 Harmoko menampilkan sebuah pertunjukan wayang kulit sebagai perayaan ulang tahun perusahaannya tersebut. Pada saat itu sudah tidak ada lagi yang namanya desak desakan ataupun rebutan jabat tangan dari Harmoko ketika beliau datang ke acara ulang tahun perusahaannya tersebut, bahkan Harmoko datang lebih awal dibanding dengan para tamu yang akan hadir. kegiatan utama harmoko pada saat ini adalah menonton wayang kulit yanh merupakan pertunjukan seni yang menjadi kegemarannya. Harmoko mengakui bahwa dia menyukai wayang kulit yaitu wayang gunungan yang merupakan wayang tanpa sosok namun dapat menyerupai apa saja. kehidupan Harmoko saat ini memang sudah tidak seperti dulu. namun ia selalu menyempatkan waktunya setiap hari Senin dan Kamis untuk menulis koran mikiknya yaitu Poskota di Rubrik.
Pada tahun 1994, departemen penerangan membredel majalah tempo, majalah editor, dan tabloid detik. Hal ini juga bersamaan dengan dipenjaranya Eko Maryadi dan tiga temannya yang kala itu berprofesi sebagai wartawan. mereka di penjarakan selama 3 tahun dikarenakan menerbitkan majalah editor, dan tabloid detik. Eko Maryadi juga merupakan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didirikan pada Agustus 1994. Eko dan tiga temannya tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak wartawan yang menolak diadakannya pembredelan yang menutup pledoisnya dengan kalimat perkedel buah kedondong, jangan main bredel dong.
Bondan Winarno yang saat ini berprofesi sebagai pembawa acara program kuliner di televisi pada tahun 1997 juga merupakan salah satu wartawan yang membongkar sebuah skandal penipuan sebuah tambang emas asal kanada Bri-X di Busang, Kalimantan Timur. pemerintah membredel majalah tempo yang disebabkan karena majalah tempo memberitakan kasus import kapal perang bekas dari Jerman Timur yang menyebabkan Bondan menjadi salah satu korban penjara. Mulai tahun 1984 hingga 1994 Bondan menukis kolom di majalah yang diberi nama Kolom Kiat yang pada waktu itu sangat disukai sekali oleh masyarakat. Aristidas Kutopo juga salah satu korban yang kehilangan korannya. Pada tahun 1996 departemen penerangan menutup Sinar Harapan yang gerbit sejak 1961 karena memberitakan bisnis keluarga cendana. Pada waktu itu beredar isu adanya monopoli dan juga banyak disebutkan bahwa kru dari KKN itu dari Cendana yang diberikan hak monopoli untuk melakukan ekspor dan impor. Kemudian pada saat itu pak Harto selaku presiden memutuskan supaya mau menghapus secara konsekuen, tetapi menjadi bertolak belakang dengan kru Sinar Harapan dikarenakan adanya persyaratan mengenai penghapusan secara konsekuen tersebut yang ada batasannya yaitu penghapusan semua monopoli kecuali yang melibatkan keluarga dan kerabat dekatnya, sedangkan menurut kru Sinar Harapan, konsekuen itu adalah penghapusan segala monopoli tanpa terkecuali dan pandang bulu. Seperti halnya majalah Tempo koran sore Sinar Harapan bisa terbit lagi setelah razim orde baru tumbang.
Pada 1992 diusia 25 tahun Ahmad Khusaini di tugaskan kantor berita Antara untuk meliput mentri penerangan Harmoko yang juga baru diangkat sebagai ketua umum Golkar. Selama 2,5 tahun setiap sabtu dan minggu khusaini mengikuti Harmoko keliling indonesia untuk melakukan "Temu Kader". Khusaini menjelaskan bahwa pada masa itu beliau bersama Harmoko merupakan sebuah perjalanan yang sangat luar biasa dengan menaiki berbagai macam kendaraan settiap harinya mulai dari rakit, pesawat khusus, helikopter, kapal angkatan laut, bahkan sampai kapal selampun dinaikinya bersana Harmoko selama 2 tahun lebih itu. Bahkan pernah pada suatu ketika pesawat hampir beberapa kali jatuh, pada saat pesawat mau jatuh dan mengeluarkan plastik oksigennya Harmoko tidak lantas panik namun malah berfoto dengan pose dua jari karena pada masa itu Harmoko merupakan bintang media yang setiap harinya muncul di Tv serta koran yang memberitakan mengenai aktivitasnya sebagai menteri oenerangan maupun ketua umun golkar.
Harmoko menjadi menteri keuangan selama 3 priode berturut-turut mulai antara tahun 1983 -1997 yang ditandatanganinyalah surat ijin penerbitan pers dan CIU dikeluarkan atau dibatalkan. Hal inilah yang menjadi hidup dan matinya media masa pada kala itu. tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat ijinnya pada periode kepemimpinan Harmoko di departemen penerangan. setelah pemilihan umum 1992 Suharto menunjuk Harmoko yang kala itu merupakan pegawai sipil pertama menjadi ketua umum Golkar. Aksi panggung Harmoko menyumbangkan aksi suara yang awalnya hanya 60% menjadi 75% ditahun 1997. Pada kegiatan saphari ramadhan dimanfaatkan dengan baik oleh Harmoko sebagai aksi nyata yanh dipergunakan untuk komunikasi sambung rasa untuk mendengarkan suasana hati rakyat serta keinginannya yang kemudian dibawa dalam rapat kabinet sehingga persoalan-persoalannya dapat didengar langsung dan dibawa ke rapat kabinet yang pada kala itu suatu kebijakan - kebijakan yang di buat sesuai dengan kenginan masyarakat yang dia dengar tersebut. Meski loyalitasnya sebagai penjaga pers razim orde baru tak diragukan, namun pada tahun 1997 presiden Soeharto mencabut 3 periode kekuasaan Harmoko di departemen penerangan yang kemudian menduduki jabatan sebagai mentri negara urusan khusus yang pada kala itu merupakan kementrian baru dan belum jelas tugas serta fungsinya. Namun kemudian diakhir tahun 1997 Soeharto menunjuk Harmoko untuk menjadi kepala Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kedudukannya setara dengan presiden sebagai lembaga negara setidaknya secara teori. Pada kala itu tidak ada yang menyangka pada penutupan paripurna ke-5 maret 1998 manjadi lebih buruk 2 bulan berikutnya di tangan Harmoko, dan pada saat itulah Harmoko membuat keputusan dan membuat jalannya sendiri. Pada kala itu Soeharto tidak punya pilihan lagi, rakyat mengamuk, jalanan rusuh, 14 mentri mundur dan diikutiboleh Harmoko yang bersamaan runtuhnya razim orde baru. Mulai saat itulah Harmoko yang psrnah bersekolah sebagai dalang diSolo tersebut menghilang dari pandangan publik.
Sempat ditemui pada saat acara ulang tahun perusahaan koran miliknya yang dibangun sejak tahun 1970 Harmoko menampilkan sebuah pertunjukan wayang kulit sebagai perayaan ulang tahun perusahaannya tersebut. Pada saat itu sudah tidak ada lagi yang namanya desak desakan ataupun rebutan jabat tangan dari Harmoko ketika beliau datang ke acara ulang tahun perusahaannya tersebut, bahkan Harmoko datang lebih awal dibanding dengan para tamu yang akan hadir. kegiatan utama harmoko pada saat ini adalah menonton wayang kulit yanh merupakan pertunjukan seni yang menjadi kegemarannya. Harmoko mengakui bahwa dia menyukai wayang kulit yaitu wayang gunungan yang merupakan wayang tanpa sosok namun dapat menyerupai apa saja. kehidupan Harmoko saat ini memang sudah tidak seperti dulu. namun ia selalu menyempatkan waktunya setiap hari Senin dan Kamis untuk menulis koran mikiknya yaitu Poskota di Rubrik.
Komentar
Posting Komentar